Siapalah diri ini? (part II)

Dua hari sudah ku keliling mencari pekerjaan, tapi hasilnya tak ada. Sempat ku merasa putus asa, tapi ku teringat pesan mendiang ibuku “Nak, janganlah kamu berputus asa dalam menjalani hidup ini, tetaplah semangat, walau sesulit apapun hidup yang kau jalani. Yakinlah bahwa Allah itu tak pernah tidur. Berusaha , berdo’alah dan jangan pernah putus asa.”

Kata-kata inilah yang menjadi motivator besarku  dalam menjalani hidup walau perih ku rasa. Setiap terngiang kata-kata itu, ku rindu dengan almarhumah ibu.

‘Bismillahirrahmanirrahim….’ Hari ini, hari ketigaku mencari pekerjaan. Semoga ku bias mendaparkannya.

“Ayah, Siti berangkat cari kerja dulu ya. Do’akan Siti semoga dapat kerja. Assalamu’alaikum”. Pamitku sambi memohon restu ayah.

“Wa’alaikum salam. Ayah tak henti-hentinya berdo’a untukmu anakku”. Mata ayahku terlihat berkaca-kaca.

Dengan yakin kulangkahkan kakiku tuk merubah nasib dan masa depanku. Ku tak ingin menjadi wanita yang lemah, kekurangan yang ku miliki akan ku jadikan sebagai kekuatanku.

“Permisi mas….”

“Maaf kami tidak menerima sumbangan mbak” spontan ucap salah satu karyawan.

“Saya tidak meminta sumbangan, saya mau tanya di sini ada lowongan kerja tidak?”.

“Oalah mbak, kirain mau minta sumbangan. Waduh sayang sekali mbak kami gak buka lowongan”

Seburuk itukah aku, sampai aku dikira peminta-minta sumbangan. “ Oh, gitu ya mas, terima kasih ya”.

Sudah tiga kantor dan lima warung ku datangi hari ini. Tapi tak ada satupun yang mau menerimaku sebagai karyawan mereka. Penat, letih, lapar bercampur menjadi satu.

“Aku lelah, seharusnya ku pulang saja”. Keluhku pada diri sendiri.

Disudut jendela ku merenung sambil memandangi bintang di langit yang begitu indah seakan bintang itu tidak pernah merasa sedih…

“Ibu, andai kau ada di sampingku pasti ku takkan merasa sedih seperti ini, ku rindu sekali padamu bu”.  Semilir angin malam mulai menyentuh kulitku dingin terasa. Tapi tidak bisa mendinginkan hatiku yang sedih akan nasibku. Ya Allah Engkau Maha Tahu apa yang ada di hati ini, kuserahkan diriku sepenuhnya  padaMu Ya Allah.

“selamat pagi ayah, do’ain hari ini ku dapat kerjaan ya ayah”. Sapa ku pada beliau dengan hati cerah secerah mentari.

“Sudahlah nak hari ini kamu di rumah saja, kamu tak usah bekerja. Di rumah saja bantu ayah mengurusi rumah”. Ucap ayah membuatku terpaku.

“Udahlah kak, terima aja nasib kakak. Kalau kakak itu emang pantasnya dirumah aja ngurusi pekerjaan rumah”. Celetuk Nensi.

“Nensi, benar dek. Kamu tidak usah bekerja, kalau kamu bekerja siapa yang kakak maintain tolong buat menjaga Ragil anak kakak?”. Timbal kakakku yang kebetulan ikut sarapan di rumah.

“Mengapa kalian tidak mendukungku?. Ayah, Siti bosan di rumah, hanya itu-itu saja yang dikerjakan tidak ada tantangannya. Ku mohon ayah sekali ini saja izinkan ku pergi, jika hari ini  kku belum memperoleh pekerjaan maka ku janji akan menuruti permintaan ayah”.  Pintaku pada ayah.

“Entah kenapa hari ini ayah berat mengizinkanmu pergi, tapi kalau itu membuatmu bahagia ayah izinkan”. Kata ayah sambil memandangku sayu.

“Restu ayah yang membuatku bahagia, kalau begitu Siti berangkat dulu yah, Assalamu’alaikum”. Pamitku pada semua yang ada di rumah.

Ku mulai melangkahkan kakiku untuk sebuah pekerjaan yang ku harapkan, lorong demi lorong ku telusuri menuju jalan besar.  Berharap dan terus berharap nasibku dapat ku ubah. Dan berdo’a mendapatkan yang terbaik, tapi entah mengapa di hatiku ada perasaan yang tak enak. Ku mulai memasang mata tajam ke dinding-dinding bangunan kantor disepanjang jalan yang ku lewati.

LOWONGAN PEKERJAAN

Dibutuhkan segera Cleaning service

  1. Pria/wanita max 30th
  2. Berpengalaman dibidangnya
  3. Mampu bekerja dengan rapi dan ulet
  4. Jujur, disiplin dan bertanggung jawab

Lamaran dapat diajukan langsung ke HRD kantor ini.

Tak sengaja ku membaca pengumuman itu, tanpa pikir panjang aku segera masuk ke kantor itu.

“Permisi pak, saya membaca lowongan yang ada di depan kantor ini. Saya ingin mengajukan lamaran tersebut. Apakah masih bisa?”Tanyaku pada satpam kantor itu.

“Kebetulan sekali, pengumuman itu baru dipajang tadi. Mbak bisa langsung ke ruang HRD. Mbak lurus aja terus belok kanan. Nah, disitu ada tulisan Ruang Kepala HRD mbak masuk aja”. Jelas pak satpam dengan ramah.

“terima kasih pak, kalau begitu saya langsung ke sana”.

Setelah mengikuti petunjuk dari pak satpam akhirnya ku menemukan ruang Kepala HRD, dengan hati yang harap-harap cemas  dan berdegup kencang ku ketuk pintu itu.

“Tok..tok..tok.. permisi pak”.

“Ya, silahkan masuk”. Suara lembut terdengar dari dalam ruangan.

Aku pun memasuki ruangan itu dengan hati yang berdebar-debar. Subhanallah ku terpana dengan seseorang yang tengah duduk di kursi jabatan kepala HRD, sesosok pria dengan wajah tampannya bak malaikat membuatku lupa akan tujuanku datang kemar.

“Maaf ada yang bisa saya bantu”. Suara lembutnya membuatku tersadar .

“eeee.. iya pak, tujuan saya kemari adalah untuk melamar pekerjaan yang sedang dibutuhkan di kantor ini, saya membaca pengumuman di depan kantor ini”. dengan gugup ku berbicara padanya.

“Betul sekali, kalau saat ini kantor kami membutuhkan seorang cleaning service. Maaf sebelumnya dengan Mbak siapa?”.

“Perkenalkan pak nama saya Siti pak, Siti Sabariyah”.

“Oh.. dengan mbak Siti, Saya Ari Gunawan  kepala HRD di sini, boleh saya liat Biodata anda”.

Akupun memberi biodata diriku yang ku tulis dengan tangan beserta Ijazah SMP yang telah kujadikan satu dalam map biru. aku semakin simpati dengan pak Ari, dengan tutur katanya yang lembut dan sopan. Selama hidupku baru kali ini ku bertemu pria tampan wajah dan hatinya. Oh… Andai saja..  Astagfirullah, sadar Siti sadar kamu disini mau cari kerja, seketika ku sadar dari lamunanku.

Tak lama pak Ari mewawancaraiku dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupanku, motivasiku bekerja dan tentang tugas cleaning service, walau ku tak tau tugasnya apa ku jawab sebisanya.

“Ehm.. Setelah saya pelajari biodata  dan hasil wawancara yang sebentar tadi, sepertinya saya tertarik memperkerjakan anda di kantor  ini, kalau begitu mulai besok anda bisa bekerja di sini”. Ujar Pak Ari di luar dugaanku.

“Benar pak?, Saya diterima kerja di sini?”. Tanyaku dengan girang

“Benar mbak Siti, besok mbak bisa mulai bekerja di sin, Jam kerja mulai dari jam 7.00- 17.00 “. Tegas Pak Ari padaku.

“Terima Kasih pak, Insya Allah  besok saya sudah siap bekerja, kalau begitu saya pamit pak”. Ujarku dengan penuh semangat.

” Oh ya, silahkan, Selamat bergabung di kantor kami”. Ucap Pak Ari padaku sembari berjabat tangan denganku.

Ku keluar kantor dengan hati bahagia, tak menyangka kalau perjuanganku memperoleh pekerjaan berbuah juga.

“Alhamdulillah akhirnya ku dapat kerja, aku harus cepat-cepat pulang, tak sabar rasanya untuk segera memberitahu ayah tentang berita bahagia ini”.

Aku pun bergegas pulang ke rumah menyebrangi jalan raya yang banyak lalu lalang kendaraan. Dengan hati berbunga-bunga sepanjang perjalananku ku senyum sendiri, mengenang sikap pak Ari. Namun tanpa kusadari dari tikungan ada Mobil laju ke arahku “Bruuuuuuuuuuuuuuukkkkkkkkkkkk… “

“Siti… kamu sudah sadar nak”, Suara ayah terdengar ditelingaku.

“Aaayaah, dimana aku yah?”

“Kamu di rumah sakit nak, tiga hari yang lalu kamu kecelakaan dan baru hari ini kamu sadar.” Ujar ayah seraya menetaskan butiran lembut dari matanya.

“Ayah, bantu aku berdiri ayah. Mengapa kakiku susah dan sakit sekali jika digerakkan? Apa yang terjadi pada kakiku yah?”. Hatiku mulai tak enak, perasaan takut menggerayapi diriku.

“Maafkan ayah nak.. tidak bisa menjagamu dengan baik. Tulang kakimu patah nak, dan kemungkinan……. hiks..hiks.. ayah tak sanggup mengatakannya”

“Kemungkinan aku tak bisa berjalan? Benarkan kah itu ayah?” Ku semakin sedih dengan apa yang menimpaku

“Maafkan ayah nak…” Ayah menangis sedu melihatku seperti ini.

“Ini bukan salah ayah. tapi kecerobohanku. Sebelum kecelakaan itu siti buru-buru pulang ke rumah, ingin mengabarkan berita gembira, karena Siti mendapat pekerjaan. Tapi, takdir berkata lain, sudahlah ayah. jangan menangis. Siti ikhlas dengan apa yang Siti alami. Mungkin ini jalan yang Allah berikan padaku.” Ucapku pada ayah. Aku tak ingin ayah merasa bersalah dengan apa yang menimpaku.

Dua hari sudah ku keluar dari rumah sakit.. Suatu kebiasaan yang tak pernah ku sangka sebelumnya. Kini hidupku tergantung oleh kursi roda, aku tidak bisa berjalan, dan hanya menyusahkan orang. Maksud hati ingin membuat ayah bahagia, namun takdir berkata lain.

“Ya Allah… ini ujian paling berat yang pernah ku hadapi sepanjang hidupku. Namun, aku yakin ini adalah yang terbaik dariMu untukku. Alhamdulillah puji syukur padaMu yang masih memberiku kesempatan hidup sampai saat ini walau kedua kakiku tak berfungsi seperti sedia kala, hamba hanya bisa pasrah, dan sabar menghadapi cobaan dariMu ya Allah. Semoga hamba termasuk orang-orang yang sabar, hamba bukan siapa-siapa tanpaMu ya Allah”. Curahan hatiku pada Sang Pemilik Hidup ini.

Kehidupanku berubah drastis,   Perhatian ayah tidak pernah lepas dariku, walau kakak dan adikku tak begitu peduli, ku berusaha bisa mandiri walau dengan kursi roda. pekerjaan yang telah ku inginkan hilanglah sudah.Ku akan belajar semaksimal mungkin memanfaatkan anggota tubuhku yang tersisa untuk berkarya apapun itu.

Kini ku tahu siapa diri ini.. Siti Sabariyah yang tak berdaya tanpa Tuhannya… Siti Sabariyah yang akan menghabiskan hidupnya di atas kursi roda, dan Siti Sabariyah yang dituntut harus sabar menjalankan kehidupan ini sesuai dengan namanya Siti Sabariyah.  Inilah aku.. aku dan kursi rodaku.

 

 

Advertisement

  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.